» time 2 months ago   » notes 14448

cafememoria

cup of coffee

Kalau bukan untuk bertemu kamu, aku tak akan repot-repot datang ke sini. Kafe tua ini tak berubah sedikitpun meski tiga tahun sudah berlalu, dindingnya masih batu bata merah, meja kayu bundar berdiri diantara sofa-sofa kecil berwarna krem, lukisan abstrak dengan warna komplementer.

Untuk kesekian kalinya aku melirik keluar jendela, jalanan bersih yang kosong dan barisan sepeda yang diparkir di seberang sana menyambut penglihatan. Perjalanan dua jam ke kota kecil ini memang melelahkan, tapi setelah bisa memandangi dan menghirup udara di sini, semua rasa lelahku seakan-akan menguap begitu saja ke udara.

Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa SMA dulu, waktu kita pernah menyusuri jalanan ini berdua, tangan saling terpaut dan cengiran lima jari terpajang di wajah masing-masing. Aku rindu masa itu, heck, aku bahkan masih ingat sweater cokelat yang sering kamu pakai waktu kita kelas tiga, aku masih ingat aroma citrus yang menguar dari rambutmu, aku bahkan merasa masih hapal dengan seberapa hangat dan besarnya telapak tanganmu yang merengkuh milikku yang lebih mungil.

Kalau ada satu yang tak bisa terhapus dalam memoriku, itu adalah kamu.

-

Aku melirik jam tangan, pukul 11.43, aku sudah terlambat lebih dari setengah jam.

Apa dia masih menunggu? Atau sudah pulang?

Aku berharap dia masih menunggu.

Hanya beberapa belokan lagi dan aku akan sampai di kafe itu. Kafe yang dulu pernah menemani kita menghabiskan waktu untuk bercengkrama setelah sekolah usai. Aku tahu mungkin kamu tidak pernah lagi menginjakkan kaki disana semenjak kita lulus, mungkin ini terdengar lucu, tapi aku selalu menyempatkan diri datang ke sana satu bulan sekali, entah sendiri atau dengan pacarku—Lisa, Devona, Iris—tapi tak seorangpun dari mereka yang mampu membuat suasana kafe itu lebih hidup selain kamu.

Kamu dan lelucon basimu, atau kamu dengan bahasan band rock favoritmu, atau kamu dengan sweater kuningmu, atau kamu dengan racauan mengenai masalah politik, atau kamu dengan rambut terikat rapi dan senyum secerah mentari.

Aku menelan ludah, tiba-tiba merasa agak sedikit gugup dengan fakta kalau hari ini, beberapa menit lagi, aku bisa bertemu denganmu lagi. Lagi-lagi bayangan sosokmu hadir, aku tahu kamu memanjangkan rambut, aku tahu kamu sekarang kurusan—apa kamu lelah hidup di kota besar?—aku tahu kamu pernah menjalin hubungan dengan beberapa anak laki-laki dari kampusmu, tapi tak ada satupun yang bertahan lebih dari tiga bulan.

Kalau kamu membuka browser laptopku, halaman facebook-mu adalah yang paling sering kukunjungi, yang kubuka paling pertama ketika surfing Internet.

Haha. Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti.

Apa yang kita punya dulu sudah lama berakhir.

Tapi nyatanya, disini.

Di otakku.

Di hatikku.

Di dalam diriku.

Namamu masih terukir.

-

Pukul 11.50 dan kamu belum datang juga.

Aku menggigit jari. Apa kamu mau mempermainkanku?

Jauh di lubuk hati aku setengah mati berharap kamu tidak begitu, kamu akan datang dan kita bisa berbincang-bincang lagi seperti dulu. Aku berharap kamu akan melempar senyuman itu, senyuman yang dulu dapat membuatku meleleh, merunduk tak mampu balas menatap dengan pipi memerah.

Dari lubuk hati paling dalam, aku berharap, kamu akan datang dan tak akan pernah pergi lagi.

-

Kalau ada hal yang paling kusesali di masa SMA-ku, mungkin itu adalah perpisahan kita.

Seharusnya aku sadar kalau kamu lebih baik daripada yang lain. Kamu yang baik, tak mengungkit aku yang selingkuh darimu di hari kita putus, kamu yang tegar, menatap balik aku dengan kehangatan walau kamu jelas kamu terluka, kamu yang pengertian, masih bisa berkata “Semoga kamu bahagia dengannya,”.

Satu wanita selain dirimu berlalu, kamu lebih baik.

Lalu dua, tiga, empat, tujuh yang lainnya jadi masa lalu. Kamu masih yang terbaik.

Disitulah aku tersadar, bahwa selama ini hanya kamu.

Hanya kamu yang bisa.

Hanya kamu yang memegang kunci gembok di hatiku.

Tapi aku dengan bodohnya, telah melempar kunci itu.

Kalau masih ada kesempatan yang dapat kugenggam, sudikah kau—bersamaku, mencari kunci itu lagi?

-

Pintu kayu tua itu berderit, aku mendongak.

Sosok laki-laki dengan kemeja biru dongker dan jaket kulit cokelat memasuki ruangan.

Laki-laki itu berbalik dan tersenyum begitu langsung mengarahkan pandangan ke mejaku. Aku tercekat dan tenggelam dalam mata beriris cokelat teh selama dua detik. Itu kamu. Kamu.

Perlu beberapa saat bagiku untuk membalas senyumanmu. Senyum itu masih sama, masih senyum menawan yang dapat membuat kakikku lemas seketika.

Kamu mengangkat tangan dan melambai ke arahku, lalu mengusap bagian belakang kepalamu. Hei, aku tahu gestur itu.

Kamu juga sama gugupnya denganku, tapi berusaha untuk menutupinya.

Aku membasahi bibir lalu tersenyum lagi ke arahmu, kali ini senyumanku lebih ringan.

“Hei,” sapaku.

“Hei,” balasmu sambil duduk di sofa di hadapanku.

 “Kenapa terlambat?” Aku sebetulnya agak kaget dengan seberapa mudahnya aku melontarkan pertanyaan pembuka.

“Mm.. macet gara-gara ada yang tabrakan tadi.”

Aku ingin tertawa, tapi kutahan. “Bohong,”

Dia menghela nafas. “Oke, tadi aku terlambat pergi. Kok tahu aku bohong?”

“Kamu selalu bergumam ‘Mm..’ kalau ngebohong” Ucapku sekenanya. Sesaat kulihat ia menatapku dalam selama beberapa detik setelah aku mengatakan hal itu.

“Kamu masih hapal yang begituan” ucapmu sambil tersenyum hangat, aku merasa lega karena nampaknya aku tidak salah langkah dalam pembicaraan.

Aku hanya tersenyum menanggapi.

Sunyi duduk dalam jeda delapan detik.

“Rambutmu jadi panjang.”

“Itu karena Mira bilang aku lebih terlihat bagus kalau berambut panjang. Makanya kupanjangin.” Aku tersenyum lagi.

“Ya emang lebih bagus, lebih cantik.” Ucapmu, dan aku jadi terdiam, merah bersemu di pipiku.

-

Segala tentang kamu masih sama sekaligus begitu berbeda dengan kamu yang dulu.

Rambut yang jatuh sebahu jadi panjang sepunggung.

Senyum yang dulu tampak kekanakkan sekarang jadi senyuman lembut yang nampaknya sulit untuk tidak kuingat-ingat.

Kamu dulu menyukai warna-warna cerah, sweater kuning, jaket merah, tas pink. Sekarang kulihat kamu memakai baju rajut warna krem muda, dengan rompi ungu tua.

Kamu cantik sekali. Sama cantiknya seperti dulu.

Aku yang terpikat, kini benar-benar terikat.

Dengan kamu yang duduk dihadapan, masih dengan aura itu, masih dengan wajah yang berlumuran kehangatan itu. Dalam hati aku merutuk, betapa bodohnya aku tiga tahun yang lalu.

Melepaskan malaikat indah sepertimu dari genggamanku.

-

“Kamu mau mesen sesuatu?” tanyaku.

“Boleh.”

“Masih suka sandwich tuna dan caramel latte?”

Kamu tersenyum, lalu mengangguk “Pesankan aku itu.”

-

“Gimana kabar Mira?” Aku tiba-tiba ingat Mira, teman sekelasku sekaligus teman dekatmu. Kalau tidak salah sekarang dia satu kampus dengamu.

“Baik”

“Masih sering bikin cerita dia?”

Wajahmu mendadak ceria, “Ah, dia sering nulis cerpen untuk majalah cewek!”

“Oh, ya?” Tanyaku pura-pura tertarik, padahal aku cuman ingin melihat wajah cerahmu itu.

Kamu mengangguk “Sekarang bahkan lagi nyusun novel.”

-

Aku menatapmu, kamu banyak berubah.

Rambut yang sedikit lebih pendek daripada ketika SMA dulu. Dan pancaran di matamu terlihat lebih hidup.

“Rambutmu gak sepanjang dulu?” Tanyaku.

“Kampusku peraturannya ribet” balasmu sekenanya.

Ah, kampusmu ya, kudengar banyak wanita cantik disana. Kudengar, kau berkali-kali mengencani mereka. Kudengar, kau dipuja bagai pangeran di sana.

Sudah seminggu berakhir semenjak aku terakhir online, halaman terakhir yang kubuka adalah profil facebook-mu. Di sana banyak terpajang fotomu dengan seorang gadis berkulit putih, kurus, berambut panjang dan berwajah manis. Di atas foto-foto yang terpajang itu. Aku lihat statusmu, “in a relationship”

Aku tahu kamu pengembara cinta, tapi untuk melepaskan wanita secantik dia yang ada di foto bersamamu, kurasa itu tidak mungkin.

Tiba-tiba hatiku terasa sakit, tapi aku segera menelan ludah, harus kubuang keputus asaan itu, dulu, aku melepasmu untukmu bisa meraih kebahagiaan sejatimu, aku tahu kamu punya kebabasan untuk memilih, aku tidak pernah mengikatmu.

Sekarang pun masih begitu. Aku bahagia asal kamu bahagia.

Meski kebahagiaanku berdiri di atas lantai kaca yang rapuh.

-

Aku memperhatikan wajahmu yang nampak sedikit tirus. Tidak nampak lagi pipi chubby yang dulu sering kucubit.

“Kamu kurusan.” Ucapku.

Detik ketika aku selesai melontarkan ucapanku barusan, kamu tersedak. Aku membantu mnyodorkan segelas air putih yang ada di meja kepadamu.

“Aku ini udah nambah tiga kilo, dari tiga bulan yang lalu, tau.” Balasmu sambil menggembungkan sebelah pipi, aku hapal betul kamu sering melakukannya dulu, waktu kita masih bersama. Aku tersenyum geli melihat ekspresi itu sekarang. Bertemu dengamu begini melegakan, harusnya kulakukan dari dulu.

“Tiga bulan yang lalu, waktu kamu putus?” Tanyaku sejadinya, seketika aku langsung merutuki lidahku sendiri yang terkadang lebih cepat bekerja dibanding otak.

Kamu mengerutkan dahi, “Kok kamu hafal?”

Sudah kepalang, apa boleh buat, “Aku kan stalker.” balasku sambil senyum jahil.

Kamu menaikan alis lalu tertawa. “Iya, waktu aku putus, mantanku yang itu model. Dia sering mengomel tentang berat badanku, jadi aku sempat kurusan waktu itu, sampai turun tujuh kilo.”

“Padahal dulu kamu chubby, lucu.”

“Kamu ingin aku chubby lagi?” Kamu bertanya sambil tersenyum manis. “Oke, aku bakal makan banyak!”

“Eh, gajadi deh, entar malah gendut!” ucapku, lalu kamu menjulurkan lidah sebal.

Kita tertawa berbarengan.

-

Setengah jam berlalu bagaikan lima menit.

Sama seperti dulu, waktu seakan-akan tak berarti jika kita berbincang-bincang seperti ini. Kenyataan itu membuatku merasa senang, sekaligus pahit di saat yang bersamaan. Karena dulu, kamu adalah milikku, tapi kini, kamu bukan lagi, kamu adalah milik orang lain.

Kebahagiaanmu ada di genggaman seorang gadis manis di luar sana.

-

“Ehm, kita sudah mengobrol panjang lebar dan kamu belum menanyakan kenapa aku ingin bertemu dengamu disini.”

Kamu tampak sedikit terkejut dengan perkataanku barusan. Lalu kamu akhirnya bertanya setelah sadar.

“Oh, kukira kau hanya ingin curhat?”

Aku kecewa. Tapi coba kusembunyikan, aku bergerak tak nyaman di sofa tempatku duduk, apa segalanya akan berakhir sekarang? Apa aku sudah tidak punya kesempatan lagi??

“Dengar, aku tahu mungkin ini pertanyaan konyol, tapi kamu—maksudku, apa kamu sekarang sedang berpacaran?” Tanyaku memberanikan diri.

-

Ini yang tidak mau kudengar.

Tuhan, apakah ia akan bilang bahwa ia sekarang sudah memiliki seorang putri di luar sana? Apa ia akan menceritakan masalah percintaannya padaku?

Aku tidak siap, aku tahu kamu pasti ingin bertemu denganku untuk suatu alasan. Dan alasan itu mungkin berhubungan dengan pacarmu yang sekarang.

Pacarmu yang manis dan cantik jelita.

Aku meneguk ludah sebelum membalas pertanyaanmu, “Tidak. Aku sedang tidak berpacaran, kenapa? Kau ingin curhat mengenai hubunganmu?”

Sekilas aku melihat tatapan bahagia di matamu. Tapi kupikir itu hanya ilusi semata.

-

“Syukurlah.” Ucapku sambil mengelus dada, namun aku mendeteksi sebuah keganjilan.

“Tunggu dulu, hubunganku? Apa maksudku dengan hubunganku?”

Kamu tampak bingung, wajahmu dimiringkan dan otomatis helaian rambut ikalmu jatuh dari bahu kedepan.

“Tentu saja kamu dan pacarmu?” Tanyamu bingung.

“Aku dan ap—pacar?”

Kamu mengangguk.

“Tunggu dulu, aku tidak punya pacar, aku sudah putus setidaknya dua bulan yang lalu?”

“Tapi statusmu masih “in a relationship”?”

“Dimana?”

“Facebook? Dan kukira pacarmu sekarang—yang ada di foto-foto di profilmu, yang berkulit putih dan berambut hitam lurus?”

Aku termenung dan merutuk dalam hati, selama dua bulan kebelakang, aku memang rajin mengecek facebook-ku setidaknya seminggu dua kali, tapi begitu login, aku langsung pergi untuk melihat profilmu, tak pernah sekalipun memeriksa beranda dengan benar ataupun pergi ke profilku sendiri, setelah melihhat profilmu aku langsung logout. Jadi, sama sekali tidak ada waktu untuk mengubah status hubungan maupun untag foto bersama mantan di facebook.

Aku menyentuh dahi dengan telapak tangan lalu tertawa geli. Setidaknya aku dapat fakta kalau ternyata tak hanya aku yang rajin mengecek profil facebook satu sama lain.

-

Aku menatapmu heran, apanya yang lucu?

Kenapa kamu tertawa seperti itu?

Aku bingung, apa aku salah lihat profil? Apa yang selama ini kukunjungi itu bukan profilmu yang sebenarnya?

-

“Itu, aku sudah putus.” Ucapku geli.

Kulihat tampangmu yang melongo, kamu ternyata tidak berubah, masih se-adorable dulu.

“Putus?”

“Yup, putus sejak dua bulan yang lalu, dia cewek tukang morot, yah, aku pacaran sama dia juga gara-gara cuma dicomblangin sama temen sih. Aku sama sekali gak suka.” Aku mengedikkan bahu, kulihat kamu masih menatapku tak percaya.

“Terus kamu gak ganti status gitu di facebook-mu? Astaga, selama ini kamu sering update facebook-mu tidak sih!? Pantas saja aku jarang melihat kamu pasang status!”

Aku tertawa.

“Habis tiap login facebook aku cuma lihat profil kamu doang sih..”

Dia nampak termenung dengan ucapanku barusan.

Aku meneguk ludah sebelum berbicara.

“Hei, selama ini aku belum melupakanmu…”

“Apa?” Kamu tampak tak percaya.

“Aku mau kita dekat seperti dulu, tidak usah jadian atau apa, cukup dekat dulu, kau bisa mengambil keputusan sesuka hatimu nanti. Selama ini aku berbuat kesalahan, ternyata cuma kamu yang aku inginkan. Aku sudah pernah meninggalkan. Jadi kalau kau mau menolakku, tak apa. Aku hanya ingin kau tahu, kalau selama ini, perasaanku padamu, belum berubah dan malah semakin kuat. Apa kamu mau? Coba denganku lagi?”

Kamu masih diam terpaku.

“Hari ini setelah melihatmu, aku tahu kalau dulu, tiga tahun yang lalu aku telah berbuat kesalahan besar, yang mungkin akan kusesali terus-menerus di masa depan. Kau tahu? Selama tiga tahun ini, selama satu bulan sekali, aku datang ke kafe ini, sendirian ataupun bersama para mantan pacarku—tapi semuanya tidak sama seperti dirimu. Kamu berbeda, karena memang kamulah orangnya, yang selama ini selalu ada dihati tanpa aku sadari. Karena itu. Maukah beri kesempatan yang kedua?”

-

Tadi selama hampir satu jam menunggumu, aku sempat berpikir kalau-kalau kamu akan mengatakan sesuatu, apapun itu, tentang memintaku untuk hadir disisimu lagi, seperti dulu.

Ya. Aku sempat mengharapkan itu.

Tapi aku sama sekali tidak berpikiran kalau itu akan benar-benar terjadi.

Aku bingung, menggigit bibir dan lalu menatapmu.

Tidak ada kebohongan disana. Sepasang kelereng cokelat menatap mataku dengan binar ketulusan disana. Sepasang kelereng cokelat yang dulu kutatap hampir setiap harinya.

Sepasang kelereng cokelat yang mengharapkan jawaban. Aku tidak tahu jawaban apa. Tapi aku tahu apa yang harus kulakukan.

Maka aku mengambil napas dalam-dalam dan menatap lurus ke sepasang kelereng cokelat.

“Pengajuan kesempatan keduamu diterima.”

-

Aku terbius oleh balasanmu, sedari awal aku mengajak kita bertemu di kafe ini, aku tidak terlalu mengharapkan respon yang positif.

Wanita secantik kamu, semenawan kamu, sebaik kamu. Pasti banyak yang mengincar. Jadi, untuk apa repot-repot menerima seseorang yang dulu pernah melukaimu. Begitu pikirku.

Tapi ternyata aku salah, wanita secantik kamu, semenawan kamu, sebaik kamu, ternyata memang wanita yang tak salah kuincar, kukejar untuk kudapatkan dulu.

Dan sekarang pun masih tetap sama. Aku yakin tak akan pernah menyesali keputusanku untuk berusaha menggapaimu lagi sekarang.

Aku menundukan kepala, berusaha menahan senyuman. Lalu menggapai tanganmu.

Tanganmu masih sama, masih sehangat dulu. Masih terasa pas bergenggaman dengan tanganku.

Aku mendongak dan menatapmu. “Terima kasih”

Kamu tersenyum cerah. Senyum yang sama, senyum secerah mentari seperti dulu.

Dan kuharap. Senyuman itu akan kembali menghiasi hari-hariku.

» time 3 months ago   » notes
apa ini  fiksi  mine  geje  

Implicitly: Kepada Waktu,

hanadiningsih:

Kemarin aku menjumpai setumpuk album bersampul hijau di sudut lemari. Lembar demi lembar cuma terisi sosok tubuh mungilku dengan senyum lebar dan mata jernih. Saat itu bangun pukul lima pagi tanpa dibangunkan ibuku adalah hal yang bisa membuatku senang sepanjang hari. Masalah terbesarku pun cuma…

» time 3 months ago   » notes 3
not mine  writing  

by pozco
» time 3 months ago   » notes 326
» time 3 months ago   » notes 21

Menunggu Layang-Layang - Madre by Dewi Lestari (2011)

hertzrussel:

Hidup kamu kayak robot adalah satu-satunya cara yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu takut sama spontanitas. Kamu takut lepas kendali. kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.

» time 3 months ago   » notes 25

Enigma abadi

Halo, Erika

a gaje fic from Vera F. Maharani

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Aku sudah sampai di sini. Tahu kan, tempat yang kita janjikan kemarin. Café dengan menu kopi yang paling kamu sukai. Aku duduk di pojok tempat kamu bisa menikmati pemandangan yang paling kamu sukai : jembatan penyeberangan yang menurutmu sangat menarik itu.

Kemarin kamu bilang oke, kan? Jadi kapan kamu akan datang?

Tidak masalah. Aku menunggu.

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Aku sudah memesankan chocolate mousse. Kamu suka chocolate mousse, kan? Atau sebenarnya kamu lebih suka cheesecake? Kalau aku pesankan dua-duanya, kamu pasti akan menganggap aku boros, dan boros itu temannya setan. Ya, ya, aku tahu. Jadi aku pesankan chocolate mousse saja. Entah kenapa aku pikir kamu akan lebih suka itu hari ini.

Ah, harusnya aku jemput kamu. Kamu pasti malas datang ya, kan jauh sekali dari rumahmu? Tapi kemarin kamu sendiri yang bilang tidak mau dijemput. Kenapa sih? Ah…kamu selalu membingungkan, enigma-ku. Teka-teki yang tidak terpecahkan.

Mungkin harusnya aku memilih tempat lain. Tapi aku memintamu datang ke café yang sama, untuk tujuan yang sama. Kamu mungkin mengataiku gila nostalgia, membosankan, atau apa, tapi sebenarnya…bukankah kita butuh tambatan setelah lama terombang-ambing tanpa arah? Cafe ini tempat yang tepat untuk menambatkan diri sesaat pada masa lalu…kembali ke garis awal. Lalu kita bisa menjejak lagi, memulai perjalanan baru.

Aku masih menunggu.

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Chocolate mousse-mu sudah tidak dingin. Aku makan ya? Nanti aku pesankan yang baru.

Aku sudah menunggu kamu satu jam sekarang. Eh…itu pemberitahuan, bukan keluhan.

Aku sedang melihat jembatan penyeberangan yang menurutmu menarik itu. Apanya sih yang bagus? Besi-besi biasa, plus iklan rokok sebagai hiasan. Aku tidak mengerti.

Aku bisa membayangkan kamu mencibir dan bertanya, apa benar kita pernah pacaran? Karena aku sulit mengerti kamu seperti juga kamu enggan mengerti aku. Menurutmu, dalam suatu hubungan harus ada pengertian. Kita tidak punya itu. Kita cuma punya hari-hari canggung yang mungkin membuatmu bertanya, kenapa kamu menerima aku pada hari itu, saat aku menyatakan cinta padamu?

Jujur, aku juga tidak tahu. Kamu memastikan alasannya menjadi misteri bagiku, seperti juga hal-hal lain mengenai dirimu.

Nah, ngomong-ngomong…sekarang kamu dikelilingi banyak cowok, kan? Cowok-cowok yang mengerubungimu itu mungkin punya tubuh tegap dan properti fisik yang diimpikan wanita, tapi…punyakah mereka pengertian yang kamu idamkan itu?

Ah, kenapa aku jadi melantur ya? Ya sudahlah.

Aku masih menunggu.

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Kamu mungkin sudah bisa menebak alasan aku meminta bertemu di sini. Tidak, kamu pasti sudah bisa menebak. Walaupun aku hanya tahu sedikit tentangmu, tapi aku tahu kamu bukan cewek lemot berkepala busa.

Mungkin kamu takut dan berlari pergi dariku lagi. Seperti ombak. Menyurut jika kukejar, tapi menggulung dan menarikku kembali setiap aku melangkah mundur.

Tapi kamu tahu kan, apa yang pasti mengenai ombak? Ombak selalu kembali pada pantai. Tidak peduli sejauh apa dia berlari di lautan lepas.

Kamu mau bilang aku sok romantis, terserah, tapi yang jelas aku akan menjadi pantai untukmu.

Erika, aku cuma mau bicara. Datanglah…

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Oke, mungkin kamu tidak akan datang. Tapi aku sudah melatih kata-kata yang mau kukatakan padamu. Tidak mungkin kan, aku biarkan basi begitu saja? Kamu mau dengar?

Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa aku segitu ngototnya. Masa pacaran kita mungkin bukan yang paling menyenangkan dilihat dari standar apa pun. Aku bingung menghadapimu dan kamu malas menghadapiku. Kita belum punya pengertian yang kamu mau itu, tapi aku mau mengenalmu, Erika. Sedikit saja lebih dalam lagi. Aku mau tahu kenapa kamu suka sekali angka tujuh dan warna oranye. Aku mau tahu apa yang menarik dari jembatan penyeberangan itu, apa yang membuatmu lebih suka jalan kaki daripada kuantar pulang pergi. Kamu mungkin adalah enigma, teka-teki yang tidak terpecahkan, tapi aku akan gatal-gatal seumur hidup kalau aku menyerah mengenalmu.

Aku mencintaimu. Sangat.

Aku menunggu untuk mengatakannya langsung padamu.

PIP.

-000-

Di sebuah kamar

Gadis itu menutup tirai dengan satu tarikan, lalu mengambil handphone-nya begitu pesan terakhir dalam mailbox selesai diputar.

Dia masih di sana, gadis itu membatin. Menunggu. Sejak dua jam yang lalu. Tapi tidak mungkin juga kan aku pergi ke sana sekarang?

Tangan gadis itu lincah mengetik di atas keypad handphone.

To: mantanpacar#1

Kita ketemu besok aja ya? Tempat yang sama?

Message sent.

Lalu gadis itu menunggu. Laki-laki itu tidak pernah membuatnya menunggu lama. Sekarang pun kemungkinan besar masih sama. Berbeda dengan dia yang selalu spontan dan berubah-ubah, laki-laki itu teguh. Atau tolol. Sedikit bedanya.

Benar saja.

From : mantanpacar#1

Ya. Tapi kamu benar2 datang ya?

Gadis itu menghela nafas. Dia masih tidak bisa menentukan mau datang atau tidak. Dia mematikan handphone-nya, lalu menyelipkannya ke bawah bantal.

-000-

Sementara itu jauh di tempat lain, laki-laki itu masih menekan nomor telepon yang telah dihapalnya di luar kepala itu. Dan menemukan sambutan yang sama.

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Dia mendesah dan berbisik lirih, bertekad untuk terus mengetuk rumah yang tak berpintu itu. Gadis itu. Enigma abadi-nya.

Erika.

Halo, Erika…”

-000-

source : fictionpress

» time 3 months ago   » notes
fanfiksi  fictionpress  Vera Maharani  not mine  

Will I wake up…

Will I wake up to find out everything that has happened

…is all a dream

That you aren’t in love with her

And I’m not lonely

Maybe I’ll wake up to see you smile

Laughing at my dream as I tell you what happened

You’ll say “Silly girl, I’m okay, I’m still here”

And we have the same routines like the old days.

Walk out into the rain, watching stars, run and hide, staring into the clouds above.

Hands intertwined and hearts racing.

Holding back giggles and laying on a green grass.

We have each other and love is (still) there.

» time 3 months ago   » notes
poem  mine  

In that messed up mind of yours

-

You can fake it all you want

When you smiled at her, it never reaches your eyes

Because deep inside your heart, you knew,

She isn’t the one.

.

You have an infectious frown

The kind that no one can smile around

The kind that make me so worry.

As if your eyes screamed, Nobody understands

.

The summer air surrounds us like a blanket of humidity

I know your name, my shoulders have touched your arm in the middle of break time.

But I’ve never touched your soul. Like you never asked anyone about me.

It’s you who throw things and gets mad at everything. You who believe true love doesn’t exist.

It’s me who gets shy, and frustrated, and want to tap your shoulder but too afraid because you might reject.

It’s me and it’s you. It’s love under the sky so blue.

It’s my heart versus my brain. It’s your heart fighting your brain.

.

In that messed up mind of yours

Have you ever thought about midnight messages, of smoking without having a complain from someone beside you, watching stars or football match together, sharing warmth of each other hands?

.

In that messed up mind of yours

Have you ever thought about sharing happiness, about someone who might’ve a crush on you?

.

In that messed up mind of yours

Are the silhouette of her still there?

.

In that messed up mind of yours

Have. You. Ever. Thought. About.

Me?

.

Boy, if only you knew, you’ve messed up my hearts and my brain.

Please help me, to get closer to you…

Help me understand how to make you feel better.

And we can be perfect together.

» time 3 months ago   » notes
poem  mine  

I like drinking coffee alone and reading alone. I like riding the bus alone and walking home alone. It gives me time to think and set my mind free. I like eating alone and listening to music alone. But when I see a mother with her child, a girl with her lover, or a friend laughing with their best friend, I realize that even though I like being alone, I don’t fancy being lonely. The sky is beautiful, but the people are sad. I just need someone who won’t run away.

Unknown  (via elementals)

(Source: buddhacoffee)

» time 3 months ago   » notes 174934
quote  

Next →